Senin, 26 Oktober 2015

review teks

Jangan Takut dengan Hipertensi

Dewasa ini hipertensi sudah menjadi hal yang paling banyak diderita oleh manusia di seluruh penjuru dunia. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab kematian terbesar penduduk di dunia. Tujuan mengulas tentang hipertensi adalah untuk mengetahui apa saja yang bisa menjadi faktor-faktor terjadinya hipertensi, gejala-geejala yang bisa ditimbulkan, pencegahan yang bisa dilakukan hingga cara pengobatannya. Dalam ulasan kali ini akan dijelaskan berbagai pendapat dari berbagai sumber tentang hipertensi sehingga dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam mengahadapi masalah hipertensi. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya kasus hipertensi di masyarakat.
Hipertensi merupakan naiknya tekanan darah dengan cara yang kurang rasional dan terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan disebabkan karena beberapa faktor. Ada banyak  sekali faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi. Faktor keturunan dan pola hidup juga bisa menjadikan salah satu faktor penyebab hipertensi(1). Ketika seseorang sudah memiliki keturunan hipertensi maka risiko untuk mengidap penyakit hipertesi menjadi lebih besar saat pola hidup yang salah dan kurang terkontrol. Pola hidup salah dapat diambil contoh dengan penggunaan garam berlebih dan kurangnya konsumsi makanan berserat yang mengakibatkan bertambahnya kandungan natrium dalam arteri(1).
Selain faktor keturunan dan pola hidup masih ada faktor usia yang sangat berpengaruh. Usia sekitar 40 tahun ke atas lebih rentan terkena hipertensi karena arteri ditubuh mereka tidak lentur seperti saat masih muda (1,2). Masih ada banyak lagi faktor lain seperti obesitas, perokok aktif, kurangnya aktifitas tubuh ataupun adanya kelainan konsentrasi lemak di dalam darah. Jadi satu faktor saja tidak bisa dijadikan acuan dalam mengetahui  risiko hipertensi pada seseorang (2). Harus dilihat pula faktor lain dari kebiasaan penderita.
Apabila tekanan darah selalu lebih tinggi dari pada normal besar kemungkinan akan terjadi kerusakan pembuluh arteri dan organ-orang yang mendapatkan suplai darah seperti ginjal, jantung dan otak. Keadaan ini akan menyebabkan semakin mengecilnya lapisan arteri dan tidak elastis lagi yang kemudian disebut dengan arteriosklerosis(1). Sementara itu mengecilnya arteri juga akan mengakibatkan darah yang akan dialirkan ke seluruh tubuh akan terhenti bahkan bisa menimbulkan kematian sebagian organ tubuh. Dan ketika sudah parah yang bisa juga berdampak timbulnya komplikasi bagi penderita seperti kerusakan pada otak contohnya pecahnya pembuluh darah, kerusakan pada jantung, kerusakan ginjal dan kerusakan mata(2).
Deteksi dini sangatlah perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana seseorang berpotensi mengidap hipertensi. Hipertensi dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu hipertensi esensial atau primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi esensial adalah hipertensi yang belum diketahui penyebab jelasnya. Hipertensi jenis ini bisa didasarkan dari faktor keturunan, usia dan obesitas(1). Sedangkan hipertensi jenis sekunder adalah hipertensi yang disebabkan karena adanya gangguan ataupun kelainan di dalam organ penderita. Gangguan ini bisa ditumbulkan karena tumor di kelenjar, produksi hormon berlebih, gangguan pada tekanan otak atau batang otak.
Harus diwaspadai juga gejala-gejala awal yang bisa menjadi acuan untuk diagnosa penyakit hipertensi. Karena banyak ditemukan kasus bahwa hipertensi baru diketahui setelah penderitanya mengalami komplikasi(1). Merasakan sakit kepala bisa jadi adalah gejala dari hipertensi. Tetapi jangan menganggap semua sakit kepala disebabkan karena darah tinggi bisa juga disebabkan karena sebab lain. Seorang penderita hipertensi biasanya selalu disertai dengan penyakit insomnia atau susah tidur. Diperlukan juga melakukan pemeriksaan darah secara berkala untuk menghindari efek negatif yang akan muncul.
Secara umum hanya ada 2 pengobatan untuk penderita hipertensi yaitu pengobatan medis atau dengan obat-obatan dan nonfarmakologis atau tanpa obat-obatan (3). Pengobatan ini bisa dilakukan dengan meninjau hipertensi jenis apa yang diderita oleh pasien. Semua bentuk pengobatan bertujuan untuk menyembuhkan pasien namun hanya tata cara dan medianya yang berbeda. Tujuan dari pengobatan hipertensi sendiri untuk menstabilkan tekanan darah agar komplikasi yang ditakutkan oleh penderita hipertensi menjadi berkurang. Sugesti untuk setiap individu hipertensi bisa saja berbeda tergantung dari faktor pemicu hipertensi(1).
Sebelum memberikan pengobatan ada baiknya pengkajian lebih dalam tentang obat-obatan hipertensi yang digunakan untuk pasien. Biasanya dokter akan memberikan pengobatan secara medis dan nonfarmakologis. Secara medis dokter akan meresepkan obat yang harus diminum dan secara nonfarmakologis maka dokter akan memberikan edukasi tentang bagaimana pola hidup yang baik dan sehat bagi penderita hipertensi.
Secara medis obat hipertensi dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya diuretik, simpatolitik dan vasolidator(4). Dari obat-obat tersebut tentunya akan menimbulkan beberapa efek samping kepada tubuh. Cara kerja dari obat yang berjenis diuretik berkerja dengan cara menambah aktifitas dari urin dengan menghambat penyerapan natrium dan air pada bagian tubulus proksimal di ginjal(4). Efek diuretik bekerja dengan menambah pelepasan air dan natrium. Saat volume air menurun maka tekanan darah juga akan ikut menurun. Namun jika natrium di tahan maka akan terjadi peningkatan tekanan darah. Ketika seorang penderita hipertensi terlalu berlebihan mengonsumsi obat diuretik akan menimbulkan beberapa efek samping diantaranya adalah impotensi bagi kaum pria, mual, muntah, asidosis dan juga bisa menimbulkan kenaikan asam urat.
Obat selanjutnya adalah simpatolitik. Cara kerja obat ini dengan fungsi dari perifer ke otak di pusat respon simpatik(4). Jenis obat ini memiliki efek yang lebih sedikit terhadap curah jantunf dan aliran darah ke ginjal. Efek samping yang bisa ditimbulkan adalah mengantuk, mulut kering, pusing dan denyut jantung lambat. Ketika penderita hipertensi sudah menggunakan produk ini pasien tidak boleh mendadak menghentikan pengobatan hal tersebut dapat memicu krisis hipertensi(4). Obat ini juga tidak cocok diberikan obat jenis ini karena obat ini mengandung zat klonidin. Zat klonidin bisa menyebabkan penurunan kadar natrium dalam tubuh dan itu cukup berbahaya bagi ibu hamil.
Jenis obat selanjutnya adalah vasodilator, bekerja dengan cara melebarkan pembulug darah seperti arteri. Vasodilator lebih cocok diberikan dengan obat diuretik untuk meminimalkan efek edema yang disebabkan tertahannya air dan natrium. Obat ini akan diresepkan saat penderita sudah mengalami hipertensi yang akut. Namun efek samping penggunaan obat ini cukup banyak seperti edema, kongesti hidung, pusing dan pendarahan saluran cerna(4). Obat-obat medis biasanya akan cepat bereaksi saat digunakan namun harus dalam jangka waktu yang panjang dan terus menerus.
Pembahasan selanjutnya adalah obat nonfarmakologis. Banyak sekali obat nonfarmakologis yang ditawarkan seperti perubahan pola hidup, diet untuk hipertensi, terapi akupuntur, terapi jus dan bisa juga menggunakan bahan-bahan herbal untuk dijadikan jamu dan masih ada banyak lagi(1). Perubahan pola hidup pada penderita hipertensi bisa dimulai dari pola makan. Jika sebelumnya pasien belum mengikuti pola makan yang baik maka harus dibimbing untuk mengubah pola makannya. Salah satunya dengan mengganti makanan yang berserat tinggi serta rendah natrium dan sebisa mungkin untuk menghindari makanan siap saji(1). Makanan yang mempunyai serat tinggi akan diuraikan dalam tubuh secara perlahan. Bisa dilanjutkan dengan mengurangi beban pikiran dari penderita hipertensi. Dengan adanya tekanan dalam tubuh maka irama jantung akan fluktuatif dan ini sangat berbahaya bagi kesehatan(5). Tekanan mental juga bisa mengakibatkan adanya pengenyempitan pembuluh darah. Bahkan seorang pasien dengan hipertensi akan lebih besar resikonya untuk mengalami serangan jantung sampai stroke. Untuk mengantisipasi hal ini maka perlu seorang pasien hipertensi belajar mengendalikan tekanan batin dan emosinya. Dengan emosi yang stabil maka tidak akan memunculkan faktor resiko besar pada dirinya(5).
Penderita hipertensi perlu melakukan diet untuk mengurangi faktor komplikasi seperti diabetes melitus(1). Normalnya seorang manusia membutuhkan makanan untuk menghasilkan energi namun ketika energi yang dikeluarkan lebih kecil daripada asupan yang diterima maka yang akan terjadi adalah penumpukan lemak yang berakibat pada obesitas. Ketika melakukan diet penderita harus mengetahui fungsi dari diet yang mereka jalani(1). Agar penderita dapat melakukan diet dengan maksimal.
Terapi dengan mengunakan jus juga sangat baik untuk penderita hipertensi. Salah satu yang bisa digunakan adalah buah tomat. Tomat kaya antioksidan polifenol likopen, phytoene dan fitofluen yang sudah dibuktikan sangat manjur untuk menurunkan tekanan darah(5). Disarankan untuk mendidihkan dahulu di air panas sebelum digunakan. Karena dengan begitu akan menghasilkan likopen yang baik(5).
Selanjutnya adalah dengan terapi akupresur. Ini merupakan suatu teknik akupuntur tanpa menggunakan jarum namun dengan menggunakan pijatan yang bermanfaat untuk melancarkan sirkulasi dalam tubuh(1). Akupresur dapat dilakukan dengan sentuhan dengan penekanan langsung pada kulit di titik-titik tubuh tertentu. Titik-titik yang dipilih bisa menurunkan gejala yang akan tampak pada penyakit hipertensi. Untuk melakukan pijitan bisa menggunakan ibu jari sekitar 1 menit di daerah tertentu seperti perikardium 3 yang letaknya ada di dekat tendon dari bisep(1).
Pengobatan selanjutnya adalah pengobatan herbal yang sudah digunakan sejak jaman dahulu. Pengobatan herbal ini bisa menggunakan rempah-rempah maupun bahan-bahan yang dianggap alami untuk menurunkan tekanan darah. Pengobatan herbal pada hakihatnya hanya membantu penderita untuk mengobati tubuhnya sendiri(1). Setiap bagian tanaman herbal mempunyai fungsi yang tak sama satu dengan lainnya. Sekarang sudah banyak pilihan yang bisa diambil jika ingin menggunakan obat herbal ada yang sudah dibuat dalam bentuk tablet, infus maupun yang masih sangat tradisional dengan cara direbus.
Salah satu obat herbal yang dapat mudah ditemukan adalah bawang putih. Bawah putih mengandung zat yang dapat merendahkan denyut nadi dan menstabilkan denyut jantung(1). Selain itu juga ada daun sambiloto dan juga bunga jeruk limau yang konon bisa mencegah penyempitan pembuluh darah dan menetralkan tekanan pada arteri(2).
Dari penjabaran tentang seluk beluk hipertensi dapat diketahui bahwa hipertensi memiliki cara pengobatan yang berbeda-beda tergantung dari kemauan dan kebutuhan penderita. Obat medis dan obat nonfarmakologis sama-sama berfungsi untuk menstabilkan tekanan darah pada tubuh. Namun perlu dikaji ulang manakah yang baik untuk mengatasi masalah hipertensi. Obat medis memang bisa dengan cepat menurunkan tekanan darah namun juga perlu diwaspadai tentang efek samping negatif yang mungkin akan muncul saat penggunaan obat tersebut. Efek samping yang sering muncul adalah pusing, mual, muntah hingga efek samping serius seperti edema dan infeksi saluran cerna. Sedangkan dengan pengobatan nonfarmakologis harus melalui proses yang harus dilakukan secara rutin dan terus menerus. Hasil yang didapatkan memang tidak dapat dilihat secepat pengobatan medis. Pengobatan nonfarmakologis harus mengutamakan kemauan untuk berusaha dalam diri penderita untuk mencapai normal. Pengubahan pola hidup, menghindari stres, terapi jus, terapi akupresur hingga obat herbal dibutuhkan kesabaran dan waktu untuk menjalani prosesnya. Ini sejalan dengan efek samping minimal yang diberikan. Namun dalam pelaksanaanya harus ada yang membimbing dan mengawasi.


Daftar Pustaka

1.        Joko Sukmono R. Mengatasi Aneka Penyakit Dengan Terapi Herbal. Jakarta: Agromedia; 2009.
2.        Jain dr. R. Pengobatan Alternatif untuk Mengatasi Tekanan Darah. Jakarta: Gramedia; 2011.
3.        Darmawan R, Dalimarta S, Sutarina N, Mahendra. Care Your Self, Hipertensi. Jakarta: Penebar Plus+; 2008.
4.        Asih Y. Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan. 1st ed. Jakarta: EGC; 1996.
5.        Ekawati R. Terapi Hipertensi. Bandung: Penerbit Qanita; 2007.
(2)(3)(4)(5)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar