Senin, 19 Oktober 2015

Sekeping Cerpen Masa Sekolah



BALASAN

Sedih, satu kata yang terpancar dan menutupi wajah ayunya. Dengan nanar dia menatap secarik foto yang ada ditangannya. Entah berapa liter air mata yang sudah keluar dan mengalir deras dari pelupuk matanya karena itu. Dari sudut hatinya sebenarnya ada sedikit penyesalan. Sekeping hatinya masih berusaha berharap dan mengais harapan yang sudah sirna bergati duka.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh tetapi dia belum beranjak pergi dari kursi di kamarnya. Dia masih saja melamun dan mengenang kisah masa lalunya.
***
“Huh... pasti telat lagi!” gumamnya sambil melihat jam tangan.
Biiimmmm... biimmmmm... terdengar klakson motor di depan rumah, diapun beranjak dari kursi yang didudukinya sedari tadi dan membawa serta tas punggungnya.
“Bunda, berangkat dulu ya.” Ucapnya sambil mengecup tangan bunda yang hangat.
“Iya, hati-hati ya Lis.” Sembari menyapu rambut anaknya
“Iya bunda. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Dibukanya pintu pagar, dipasangnya air muka cemberut. Alah paling nanti dia juga akan merengek-rengek minta maaf karena telat menjemput, gerutunya dalam hati.
“Pagi-pagi kok mukanya sudah ditekuk sih.” Goda Eza yang semakin membuatnya kesal.
“Iya sudah ayo cepetan nanti malah terlambat.” Ucap Allysa kesal
“Siap kapten!” seru Eza
***
 “Lis, maaf dong. Jangan marah, ini yang terakhir deh! Janji.” Dengan wajah memelas seperti biasanya
“Za, apa dengan janji dan maaf dari kamu bisa menyelesaikan masalah? Jangan suka ngumbar janji!” Allysa mulai naik darah.
“Kamu beneran marah sama aku?” Tanyanya polos
“Terus kamu pikir aku bohongan gitu? Aku udah capek menghadapi tingkah kamu yang selalu saja mengumbar janji-janji itu.” Ucapnya agak keras, tanpa menghiraukan Eza diapun langsung pergi meninggalkan tempat itu.
            Hari silih berganti, pertengkaranpun selalu terjadi setiap saat bahkan sebuah masalah kecilpun bisa menjadi masalah yang sangat sulit diselesaikan. Lambat laun, Allysa mulai menyerah tetapi ia masih binggung karena rasa cintanya kepada Eza. Dia berfikir semalam suntuk untuk memutuskan hal ini.
            Jam dinding baru menunjukkan pukul enam lebih limabelas menit tetapi Allysa sudah tidak sabar untuk berangkat ke sekolah, alasannya sederhana. Dia ingin cepat-cepat mengutarakan keputusannya kepada Eza. Seharian itu dia berusaha menghindari Eza, ketika Eza hendak menghampirinya ia langsung pergi menjauh dan itu dilakukan berkali-kali. Akhirnya bel pertanda pulang yang ditunggu-tunggu berdering. Dengan sekuat tenaganya ia berusaha menyiapkan mental untuk segala sesuatu yang akan terjadi.
“Eza...” panggilnya dari belakang.
“Eh, kamu udah disini Lis. Yuk kita pulang bareng.”
“Aku mau bicara sesuatu Za, sebentar aja.” Ucapnya pelan.
“Mau bicara apa Sayang? Kayaknya serius banget, pakai acara izin segala.” mungkin Eza merasa keheranan.
“Eza, kita putus aja ya. Aku ngerasa kita udah nggak sepaham lagi. Kita udah beda, bukan kita yang dulu selalu ceria dan sedih bersama. Aku juga udah nggak sanggup berantem terus sama kamu. Jadi mending kita udahan aja.” Tuturnya dengan halus. Eza hanya mampu terpaku dan berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Allysa. Dia masih tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar.
“Eza, kamu baik-baik aja kan?
“Emmm.. Iya Lis, mungkin memang itu yang terbaik untuk kita. Kamu jaga diri baik-baik ya.”
“Iya Eza, kamu juga ya jangan keseringan telat bangun. Ya udah aku pulang dulu ya, sudah dijemput Bunda didepan.”
“Iya, Lis. Salam buat Bunda ya.”
Sesampainya di rumah, dia segera merebahkan diri yang sudah lelah karena seharian berpikir di sekolah. Sejenak ia memikirkan keputusan yang baru diambilnya. Tapi dia segera menepis semua pikirannya, dia berpikir bahwa ini adalah keputusan terbaik untuk bersama. Perutnya terasa lapar kemudian dia menghampiri bundanya yang sedari tadi sudah berada di ruang makan. Tanpa banyak kata ia langsung mengambil makanan  dan segera menyantapnya. Setelah kenyang dia kembali lagi ke kamar. Sesampainya, dia merasa bosan dan binggung akan melakukan apa. Tiba-tiba handphonenya berdering dan ternyata ada sebuah SMS masuk dari Mario. Mario ingin mengajaknya membeli kado untuk adiknya yang akan ulang tahun, karena tidak ada kegiatan akhirnya dia menyetujuinya. Tak berapa lama kemudian Mario sudah ada di depan rumahnya. Mario adalah teman kecilnya, mereka sangat dekat bahkan tak jarang orang-orang mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

***
            Bulan silih berganti, tak terasa sudah hampir enam bulan Allysa berpisah dengan Eza. Kini dia menjadi sangat dekat dengan Mario dan lebih dekat daripada dahulu. Dia merasa Mario adalah orang yang sangat istimewa dan mampu memahami segala keinginannya. Mario, sesosok laki-laki yang kini mengisi ruang dihatinya. Mario, penghiburnya disetiap kesedihannya. Mario, seorang sahabat kecil yang kini sudah menjadi pelita hatinya.
***
“Hallo Lis.” Sapa Mario hangat.
“Halo Mario.”
“Kamu bisa datang kerumahku sebentar? Aku butuh bantuan nih.”
“Wah ada apa, kayaknya penting deh.”
“Udah pokoknya kamu cepet kesini! Bye!” ucapnya dan mematikan pembicaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar