Jangan Takut dengan Hipertensi
Dewasa
ini hipertensi sudah menjadi hal yang paling banyak diderita oleh manusia di
seluruh penjuru dunia. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab kematian
terbesar penduduk di dunia. Tujuan mengulas tentang hipertensi adalah untuk
mengetahui apa saja yang bisa menjadi faktor-faktor terjadinya hipertensi,
gejala-geejala yang bisa ditimbulkan, pencegahan yang bisa dilakukan hingga
cara pengobatannya. Dalam ulasan kali ini akan dijelaskan berbagai pendapat
dari berbagai sumber tentang hipertensi sehingga dapat dijadikan sebagai tolak
ukur dalam mengahadapi masalah hipertensi. Hal ini untuk meminimalisir
terjadinya kasus hipertensi di masyarakat.
Hipertensi
merupakan naiknya tekanan darah dengan cara yang kurang rasional dan terjadi
dalam kurun waktu yang bersamaan disebabkan karena beberapa faktor. Ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi. Faktor keturunan dan pola hidup juga bisa menjadikan salah satu
faktor penyebab hipertensi(1).
Ketika seseorang sudah memiliki keturunan hipertensi maka risiko untuk mengidap
penyakit hipertesi menjadi lebih besar saat pola hidup yang salah dan kurang
terkontrol. Pola hidup salah dapat diambil contoh dengan penggunaan garam
berlebih dan kurangnya konsumsi makanan berserat yang mengakibatkan
bertambahnya kandungan natrium dalam arteri(1).
Selain
faktor keturunan dan pola hidup masih ada faktor usia yang sangat berpengaruh.
Usia sekitar 40 tahun ke atas lebih rentan terkena hipertensi karena arteri ditubuh
mereka tidak lentur seperti saat masih muda (1,2). Masih ada banyak
lagi faktor lain seperti obesitas, perokok aktif, kurangnya aktifitas tubuh
ataupun adanya kelainan konsentrasi lemak di dalam darah. Jadi satu faktor saja
tidak bisa dijadikan acuan dalam mengetahui risiko hipertensi pada seseorang (2).
Harus dilihat pula faktor lain dari kebiasaan penderita.
Apabila
tekanan darah selalu lebih tinggi dari pada normal besar kemungkinan akan
terjadi kerusakan pembuluh arteri dan organ-orang yang mendapatkan suplai darah
seperti ginjal, jantung dan otak. Keadaan ini akan menyebabkan semakin
mengecilnya lapisan arteri dan tidak elastis lagi yang kemudian disebut dengan arteriosklerosis(1).
Sementara itu mengecilnya arteri juga akan mengakibatkan darah yang akan
dialirkan ke seluruh tubuh akan terhenti bahkan bisa menimbulkan kematian
sebagian organ tubuh. Dan ketika sudah parah yang bisa juga berdampak timbulnya
komplikasi bagi penderita seperti kerusakan pada otak contohnya pecahnya
pembuluh darah, kerusakan pada jantung, kerusakan ginjal dan kerusakan mata(2).
Deteksi
dini sangatlah perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana seseorang
berpotensi mengidap hipertensi. Hipertensi dapat dibedakan menjadi 2 jenis
yaitu hipertensi esensial atau primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi
esensial adalah hipertensi yang belum diketahui penyebab jelasnya. Hipertensi
jenis ini bisa didasarkan dari faktor keturunan, usia dan obesitas(1).
Sedangkan hipertensi jenis sekunder adalah hipertensi yang disebabkan karena
adanya gangguan ataupun kelainan di dalam organ penderita. Gangguan ini bisa
ditumbulkan karena tumor di kelenjar, produksi hormon berlebih, gangguan pada
tekanan otak atau batang otak.
Harus
diwaspadai juga gejala-gejala awal yang bisa menjadi acuan untuk diagnosa
penyakit hipertensi. Karena banyak ditemukan kasus bahwa hipertensi baru
diketahui setelah penderitanya mengalami komplikasi(1). Merasakan
sakit kepala bisa jadi adalah gejala dari hipertensi. Tetapi jangan menganggap
semua sakit kepala disebabkan karena darah tinggi bisa juga disebabkan karena sebab
lain. Seorang penderita hipertensi biasanya selalu disertai dengan penyakit
insomnia atau susah tidur. Diperlukan juga melakukan pemeriksaan darah secara
berkala untuk menghindari efek negatif yang akan muncul.
Secara
umum hanya ada 2 pengobatan untuk penderita hipertensi yaitu pengobatan medis
atau dengan obat-obatan dan nonfarmakologis atau tanpa obat-obatan (3).
Pengobatan ini bisa dilakukan dengan meninjau hipertensi jenis apa yang
diderita oleh pasien. Semua bentuk pengobatan bertujuan untuk menyembuhkan
pasien namun hanya tata cara dan medianya yang berbeda. Tujuan dari pengobatan
hipertensi sendiri untuk menstabilkan tekanan darah agar komplikasi yang
ditakutkan oleh penderita hipertensi menjadi berkurang. Sugesti untuk setiap
individu hipertensi bisa saja berbeda tergantung dari faktor pemicu hipertensi(1).
Sebelum
memberikan pengobatan ada baiknya pengkajian lebih dalam tentang obat-obatan
hipertensi yang digunakan untuk pasien. Biasanya dokter akan memberikan
pengobatan secara medis dan nonfarmakologis. Secara medis dokter akan
meresepkan obat yang harus diminum dan secara nonfarmakologis maka dokter akan
memberikan edukasi tentang bagaimana pola hidup yang baik dan sehat bagi
penderita hipertensi.
Secara
medis obat hipertensi dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya diuretik,
simpatolitik dan vasolidator(4). Dari obat-obat tersebut tentunya
akan menimbulkan beberapa efek samping kepada tubuh. Cara kerja dari obat yang
berjenis diuretik berkerja dengan cara menambah aktifitas dari urin dengan
menghambat penyerapan natrium dan air pada bagian tubulus proksimal di ginjal(4).
Efek diuretik bekerja dengan menambah pelepasan air dan natrium. Saat volume
air menurun maka tekanan darah juga akan ikut menurun. Namun jika natrium di
tahan maka akan terjadi peningkatan tekanan darah. Ketika seorang penderita
hipertensi terlalu berlebihan mengonsumsi obat diuretik akan menimbulkan
beberapa efek samping diantaranya adalah impotensi bagi kaum pria, mual,
muntah, asidosis dan juga bisa menimbulkan kenaikan asam urat.
Obat
selanjutnya adalah simpatolitik. Cara kerja obat ini dengan fungsi dari perifer
ke otak di pusat respon simpatik(4). Jenis obat ini memiliki efek
yang lebih sedikit terhadap curah jantunf dan aliran darah ke ginjal. Efek
samping yang bisa ditimbulkan adalah mengantuk, mulut kering, pusing dan denyut
jantung lambat. Ketika penderita hipertensi sudah menggunakan produk ini pasien
tidak boleh mendadak menghentikan pengobatan hal tersebut dapat memicu krisis
hipertensi(4). Obat ini juga tidak cocok diberikan obat jenis ini
karena obat ini mengandung zat klonidin. Zat klonidin bisa menyebabkan
penurunan kadar natrium dalam tubuh dan itu cukup berbahaya bagi ibu hamil.
Jenis
obat selanjutnya adalah vasodilator, bekerja dengan cara melebarkan pembulug
darah seperti arteri. Vasodilator lebih cocok diberikan dengan obat diuretik
untuk meminimalkan efek edema yang disebabkan tertahannya air dan natrium. Obat
ini akan diresepkan saat penderita sudah mengalami hipertensi yang akut. Namun
efek samping penggunaan obat ini cukup banyak seperti edema, kongesti hidung,
pusing dan pendarahan saluran cerna(4). Obat-obat medis biasanya
akan cepat bereaksi saat digunakan namun harus dalam jangka waktu yang panjang
dan terus menerus.
Pembahasan
selanjutnya adalah obat nonfarmakologis. Banyak sekali obat nonfarmakologis
yang ditawarkan seperti perubahan pola hidup, diet untuk hipertensi, terapi
akupuntur, terapi jus dan bisa juga menggunakan bahan-bahan herbal untuk
dijadikan jamu dan masih ada banyak lagi(1). Perubahan pola hidup
pada penderita hipertensi bisa dimulai dari pola makan. Jika sebelumnya pasien
belum mengikuti pola makan yang baik maka harus dibimbing untuk mengubah pola
makannya. Salah satunya dengan mengganti makanan yang berserat tinggi serta
rendah natrium dan sebisa mungkin untuk menghindari makanan siap saji(1).
Makanan yang mempunyai serat tinggi akan diuraikan dalam tubuh secara perlahan.
Bisa dilanjutkan dengan mengurangi beban pikiran dari penderita hipertensi.
Dengan adanya tekanan dalam tubuh maka irama jantung akan fluktuatif dan ini
sangat berbahaya bagi kesehatan(5). Tekanan mental juga bisa
mengakibatkan adanya pengenyempitan pembuluh darah. Bahkan seorang pasien
dengan hipertensi akan lebih besar resikonya untuk mengalami serangan jantung
sampai stroke. Untuk mengantisipasi hal ini maka perlu seorang pasien
hipertensi belajar mengendalikan tekanan batin dan emosinya. Dengan emosi yang
stabil maka tidak akan memunculkan faktor resiko besar pada dirinya(5).
Penderita
hipertensi perlu melakukan diet untuk mengurangi faktor komplikasi seperti
diabetes melitus(1). Normalnya seorang manusia membutuhkan makanan
untuk menghasilkan energi namun ketika energi yang dikeluarkan lebih kecil
daripada asupan yang diterima maka yang akan terjadi adalah penumpukan lemak
yang berakibat pada obesitas. Ketika melakukan diet penderita harus mengetahui
fungsi dari diet yang mereka jalani(1). Agar penderita dapat
melakukan diet dengan maksimal.
Terapi
dengan mengunakan jus juga sangat baik untuk penderita hipertensi. Salah satu
yang bisa digunakan adalah buah tomat. Tomat kaya antioksidan polifenol
likopen, phytoene dan fitofluen yang sudah dibuktikan sangat manjur untuk
menurunkan tekanan darah(5). Disarankan untuk mendidihkan dahulu di
air panas sebelum digunakan. Karena dengan begitu akan menghasilkan likopen
yang baik(5).
Selanjutnya
adalah dengan terapi akupresur. Ini merupakan suatu teknik akupuntur tanpa
menggunakan jarum namun dengan menggunakan pijatan yang bermanfaat untuk
melancarkan sirkulasi dalam tubuh(1). Akupresur dapat dilakukan
dengan sentuhan dengan penekanan langsung pada kulit di titik-titik tubuh
tertentu. Titik-titik yang dipilih bisa menurunkan gejala yang akan tampak pada
penyakit hipertensi. Untuk melakukan pijitan bisa menggunakan ibu jari sekitar
1 menit di daerah tertentu seperti perikardium 3 yang letaknya ada di dekat
tendon dari bisep(1).
Pengobatan
selanjutnya adalah pengobatan herbal yang sudah digunakan sejak jaman dahulu.
Pengobatan herbal ini bisa menggunakan rempah-rempah maupun bahan-bahan yang
dianggap alami untuk menurunkan tekanan darah. Pengobatan herbal pada
hakihatnya hanya membantu penderita untuk mengobati tubuhnya sendiri(1).
Setiap bagian tanaman herbal mempunyai fungsi yang tak sama satu dengan
lainnya. Sekarang sudah banyak pilihan yang bisa diambil jika ingin menggunakan
obat herbal ada yang sudah dibuat dalam bentuk tablet, infus maupun yang masih
sangat tradisional dengan cara direbus.
Salah
satu obat herbal yang dapat mudah ditemukan adalah bawang putih. Bawah putih
mengandung zat yang dapat merendahkan denyut nadi dan menstabilkan denyut
jantung(1). Selain itu juga ada daun sambiloto dan juga bunga jeruk
limau yang konon bisa mencegah penyempitan pembuluh darah dan menetralkan
tekanan pada arteri(2).
Dari
penjabaran tentang seluk beluk hipertensi dapat diketahui bahwa hipertensi
memiliki cara pengobatan yang berbeda-beda tergantung dari kemauan dan
kebutuhan penderita. Obat medis dan obat nonfarmakologis sama-sama berfungsi
untuk menstabilkan tekanan darah pada tubuh. Namun perlu dikaji ulang manakah
yang baik untuk mengatasi masalah hipertensi. Obat medis memang bisa dengan
cepat menurunkan tekanan darah namun juga perlu diwaspadai tentang efek samping
negatif yang mungkin akan muncul saat penggunaan obat tersebut. Efek samping
yang sering muncul adalah pusing, mual, muntah hingga efek samping serius
seperti edema dan infeksi saluran cerna. Sedangkan dengan pengobatan nonfarmakologis
harus melalui proses yang harus dilakukan secara rutin dan terus menerus. Hasil
yang didapatkan memang tidak dapat dilihat secepat pengobatan medis. Pengobatan
nonfarmakologis harus mengutamakan kemauan untuk berusaha dalam diri penderita
untuk mencapai normal. Pengubahan pola hidup, menghindari stres, terapi jus,
terapi akupresur hingga obat herbal dibutuhkan kesabaran dan waktu untuk
menjalani prosesnya. Ini sejalan dengan efek samping minimal yang diberikan.
Namun dalam pelaksanaanya harus ada yang membimbing dan mengawasi.
Daftar
Pustaka
1. Joko
Sukmono R. Mengatasi Aneka Penyakit Dengan Terapi Herbal. Jakarta: Agromedia;
2009.
2. Jain dr. R. Pengobatan
Alternatif untuk Mengatasi Tekanan Darah. Jakarta: Gramedia; 2011.
3. Darmawan R, Dalimarta S,
Sutarina N, Mahendra. Care Your Self, Hipertensi. Jakarta: Penebar Plus+; 2008.
4. Asih Y. Farmakologi,
Pendekatan Proses Keperawatan. 1st ed. Jakarta: EGC; 1996.
5. Ekawati R. Terapi
Hipertensi. Bandung: Penerbit Qanita; 2007.
(2)(3)(4)(5)